Gambaran Kegagalan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Kabupaten Banggai Kepulauan

Overview of Treatment Failure Among Tuberculosis Patients in Banggai Islands Regency

Authors

  • Erni Yusnita Lalusu Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Herawati Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • abdulamin Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk

Keywords:

Tuberculosis, treatment failure, risk factors

Abstract

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Kepulauan tahun 2025, kasus kegagalan pengobatan (lost to follow-up) masih ditemukan di berbagai wilayah kerja puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran kegagalan pengobatan penderita TB di tiga wilayah kerja puskesmas Kabupaten Banggai Kepulauan berdasarkan faktor komorbid, dukungan keluarga, perilaku merokok, kebiasaan mengonsumsi alkohol, kepatuhan minum obat, Pengawas Menelan Obat (PMO), kepadatan hunian, dan ketersediaan obat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif observasional. Populasi penelitian berjumlah 56 penderita TB yang mengalami kegagalan pengobatan tahun 2025, terdiri dari 26 penderita di wilayah kerja Puskesmas Tinangkung, 21 penderita di wilayah kerja Puskesmas Saleati, dan 9 penderita di wilayah kerja Puskesmas Patukuki. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling banyak ditemukan adalah perilaku merokok (73.2%), diikuti komorbid HIV/Diabetes Melitus (33.9%), kepadatan hunian (21,4%), konsumsi alkohol (12.5%), PMO tidak aktif (10.7%), ketidakpatuhan minum obat (7.1%), dukungan keluarga kurang (3.6%), dan ketersediaan obat yang memadai (98.2%) Disimpulkan bahwa kegagalan pengobatan TB ditemukan pada berbagai faktor perilaku, klinis, lingkungan, sosial, dan pelayanan kesehatan. Disarankan agar Puskesmas meningkatkan edukasi, pemantauan kepatuhan pengobatan, optimalisasi peran PMO dan keluarga, serta pemantauan pengobatan secara berkelanjutan.

Based on 2025 data from the Banggai Kepulauan Regency Health Office, cases of treatment failure (specifically, patients lost to follow-up) persist across various Community Health Center (Puskesmas) service areas. This study aimed to describe the profile of TB treatment failure in three Puskesmas service areas in Banggai Kepulauan Regency, focusing on factors such as comorbidities, family support, smoking behavior, alcohol consumption, medication adherence, the presence of a Treatment Supporter (PMO), housing density, and medication availability. A quantitative method with a descriptive-observational design was employed. The study population consisted of 56 TB patients who experienced treatment failure in 2025: 26 from the Tinangkung Puskesmas area, 21 from Saleati Puskesmas, and 9 from Patukuki Puskesmas. Total sampling was used, meaning the entire population served as the sample. Data were collected via questionnaires and observation sheets, then analyzed using univariate analysis (frequency distributions and percentages). The results revealed that the most prevalent factor was smoking behavior (73.2%), followed by HIV/Diabetes Mellitus comorbidities (33.9%), housing density (21.4%), alcohol consumption (12.5%), inactive Treatment Supporters (10.7%), medication non-adherence (7.1%), insufficient family support (3.6%), and inadequate medication availability (1.8%). It is concluded that TB treatment failure is associated with various behavioral, clinical, environmental, social, and healthcare service factors. Recommendations include enhancing patient education, monitoring treatment adherence, optimizing the roles of Treatment Supporters and families, and ensuring continuous treatment monitoring.

References

Adawiyah, R. N., Akaputra, R., W, M. R., & Fachri, M. (2023). Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Lama Waktu Pengobatan Tuberkulosis Paru Klinis di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu Tahun 2019 - 2023. January 2019, 1–13. http://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaslit%0AE-ISSN:2745-6080

Aisyah, K. R., & Dewi, A. P. (2026). Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru ( TB Paru ). 8, 1428–1435. https://bnj.akys.ac.id/BNJ

Farlinza, S. V., Lestari, F., & Choesrnia, R. (n.d.). Studi Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis Kategori 1 di Puskesmas Kalibalangan Lampung Utara. 1116–1122. https://doi.org/https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4834

Indriani Suryana1, N. (2021). Hubungan Antara Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) Terhadap Kepatuhan Minum Obat Penderita TB Paru. 2015(2). https://doi.org/https://doi.org/10.24853/ijnsp.v4i2.93-98

Jannah, N. N., Waluya, N. A., & Sasmita, A. (2022). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti TB ( OAT ) Pada Pasien TB Paru Di Puskesmas X Kota Bandung 2020. 2(1), 0–8. https://repo.poltekkesbandung.ac.id/6915/1/HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN.pdf

Kadek Giselda GityaraniDengan, B., Tuberkulosis, K., & Anak, P. (2024). Kejadian Literatur Tentang Kepadatan Hunian Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Pada Anak. 9(9).

Kepualaun, D. kesehatan kabupaten banggai. (2024). Dinas Keseatan Kabupaten Banggai Kepulauan. 2.

Laili, F., Ronoatmodjo, S., & Murtiani, F. (2023). Ko-Infeksi TB-HIV terhadap Kegagalan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Resistan Obat di Indonesia. 10(2), 153–165.

Maharani, S. S., Nur, D., Ningrum, A., & Miarso, D. (2024). Determinan Kejadian Putus Berobat pada Pasien Tuberkulosis di Kota Semarang. 8(2). https://doi.org/https://doi.org/10.15294 /higeia/v8i1/76184

Malik, A. A., Ernadi, E., & Suryanto, D. (2025). Hubungan Dukungan Keluarga Dan Peran Petugas Kesehatan Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Tuberkulosis ( Tbc ) Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin. 62–74. https://journal.ruangeduberjaya.com/index.php/JMBK

Masruriati, E. (2024). Manajemen Pengelolaan Obat Tuberkulosis di Puskesmas Brangsong 01. 1. https://jurnal.naiwabestscience.my.id/index.php/jikk/%0APENDAHULUAN

Mei, F. O., Ayu, I., Parthasutema, M., & Wintariani, N. P. (2020). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kegagalan Terapi Pasien TB Paru di Puskesmas Labuan Bajo ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis TB Paru di puskemas Labuan Bajo. 1(1), 81–89.

Nasution, S. Z., & Mutiara, E. (2024). Peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan Swasta Pada Penjaringan Suspek Tuberkulosis Dan Pengobatan Tuberkulosis Paru Di Kota Medan. 1(1), 1–9. https://doi.org/Peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan Swasta Pada Penjaringan Suspek Tuberkulosis dan Pengobatan Tuberkulosis Paru di Kota Medan

Nurwahid, W. (2024). Hubungan status ekonomi dengan kejadian tuberculosis: literature review. 2(1), 42–52.

Putri, J. A. (2015). Hubungan Pengetahuan dan Tingkat Pendidikan PMO ( Pengawas Minum Obat ) Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antituberkulosis Pasien TB Paru. 4(November), 81–84.

Ritonga, I. L. (2022). Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Pengobatan Indonesia. 8(2), 107–112. http://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALKEPERAWATAN

Ruspiana, N. (2022). Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita TB Paru di Rusd Tugu Jaya Tahun 2022. 14(September).

Sabila, M. S. (2024). Hubungan Faktor Lingkungan Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Usia Produktif di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Cigeureung Kota Tasikmalaya. 20(1), 20–30.

Saroso, S., Hospital, D., Sulianti, P., Epidemiologi, P., Masyarakat, F. K., Indonesia, U., Epidemiologi, D., Masyarakat, F. K., Indonesia, U., & Immunodeficiency, H. (2016). Gambaran Kegagalan Perbaikan CD4 Pasien Koinfeksi TB-HIV Berdasarkan Jarak Waktu Pemberian Antiretroviral Pasca Obat Anti Tuberkulosis di Rumah Sakit Penyakit Infeksi ( RSPI ) Prof . June.

Sinaga, F. T. Y. (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kegagalan Pengobatan Pasien TB Paru Di Puskesmas Kota Bandar Lampung Tahun 2018. 6, 1–11.

Tahun, P., Muchtar, N. H., & Herman, D. (2018). Artikel Penelitian Gambaran Faktor Risiko Timbulnya Tuberkulosis Paru pada Pasien yang Berkunjung ke Unit DOTS RSUP Dr . M . Djamil. 7(1), 80–87.

Unja, E. E., Tinggi, S., Kesehatan, I., Insan, S., Puskesmas, P., & Bilu, S. (2022). Hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis paru di Puskesmas sungai bilu 1,3. 7(2), 163–169.

Williams, P. M., Pratt, R. H., Walker, W. L., Price, S. F., Stewart, R. J., & Feng, P. I. (2024). Tuberculosis — United States , 2023. 73(12), 265–270.

Wulan, D., & Rengganis, S. (2023). Risk factors for delayed sputum conversion : A qualitative case study from the person-in-charge of TB program ’ s perspectives. 1. https://doi.org/10.1177/22799036231208355

Zahro, A. M. A. (2023). Faktor yang Berhubungan dengan Kegagalan Pengobatan Tuberkulosis Paru di Kabupaten Klaten. 7(4), 538–549. https://doi.org/https://doi.org/10.15294 /higeia.v7i4.69070

Downloads

Published

2026-10-11

How to Cite

Lalusu, E. Y., Herawati, & abdulamin. (2026). Gambaran Kegagalan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Kabupaten Banggai Kepulauan: Overview of Treatment Failure Among Tuberculosis Patients in Banggai Islands Regency. Buletin Kesehatan Mahasiswa, 4(3). Retrieved from https://journal-fkm.untika.ac.id/bkm/article/view/554