Gambaran Tingkat Kebisingan Dan Gangguan Pendengaran Pada Pekerja Penggilingan Padi Di Batui Selatan

Overview of Noise Levels and Hearing Impairment Among Rice Mill Workers in South Batui

Authors

  • Nurul Hikma Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk
  • Marselina Sattu Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Mirawati Tongko Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk

DOI:

https://doi.org/10.51888/bkm.v5i1.565

Keywords:

tingkat kebisingan, gangguan pendengaran, pekerja penggilingan padi, Sound Level Meter, Hearing Test

Abstract

Kebisingan merupakan salah satu faktor bahaya fisik di tempat kerja yang dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran pada pekerja. Penggilingan padi menggunakan mesin yang beroperasi selama proses produksi sehingga pekerja berpotensi terpapar kebisingan dalam waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kebisingan dan gangguan pendengaran pada pekerja penggilingan padi di Kecamatan Batui Selatan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian terdiri atas 5 unit penggilingan padi dan 31 pekerja. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Tingkat kebisingan diukur menggunakan Sound Level Meter (SLM) dengan parameter tingkat kebisingan ekuivalen (Leq), sedangkan gangguan pendengaran diperiksa menggunakan Hearing Test berdasarkan frekuensi suara (Pitch/Hz). Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh 5 unit penggilingan padi (100%) memiliki tingkat kebisingan di atas Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dB(A) untuk waktu kerja 8 jam, dengan hasil pengukuran berkisar antara 91,19–98,85 dB(A). Dari 31 pekerja, sebanyak 16 orang (51,6%) mengalami gangguan pendengaran dan 15 orang (48,4%) tidak mengalami gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran lebih banyak ditemukan pada telinga kanan dibandingkan telinga kiri. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengendalian kebisingan, penggunaan alat pelindung pendengaran, dan pemeriksaan pendengaran secara berkala.

Noise is one of the physical hazards in the workplace that may increase the risk of hearing impairment among workers. Rice milling activities use machines that operate during production, potentially exposing workers to high noise levels for long periods. This study aimed to describe noise levels and hearing impairment among rice mill workers in South Batui District. A descriptive study with a quantitative approach was conducted. The population consisted of 5 rice milling units and 31 workers. Total sampling was used. Noise levels were measured using a Sound Level Meter (SLM) with the equivalent continuous sound level (Leq) parameter, while hearing impairment was assessed using a Hearing Test based on sound frequency (Pitch/Hz). Data were analyzed descriptively using univariate analysis and presented as frequency and percentage distributions. The results showed that all 5 rice milling units (100%) had noise levels above the occupational exposure limit of 85 dB(A) for an 8-hour workday, with measured levels ranging from 91.19 to 98.85 dB(A). Of 31 workers, 16 (51.6%) had hearing impairment and 15 (48.4%) did not. Hearing impairment was more frequently found in the right ear than in the left ear. These findings indicate the need for noise control, consistent use of hearing protection, and periodic hearing examinations.

References

Azwar, E. (2024). Analisis kebisingan pada penggilingan padi terhadap keluhan pendengaran subyektif pekerja di Pabrik HS Ulee Glee Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie Tahun 2022.

Chaerunnisa, I., Alwi, M. K., Yuliaty, & Tussaadah, N. (2021). Faktor yang berhubungan dengan keluhan gangguan pendengaran pada pekerja pabrik beras Marioriawa Kabupaten Soppeng. Window of Public Health Journal, 2(5), 864–875.

Citra, D. A. B., Rachmawati, S., & Kusuma, W. A. F. (2023). Edukasi dan pengendalian kebisingan terhadap pekerja penggilingan padi. 7(2), 910–918.

Khairalina, Zakaria, M., & Bakhtiar. (2022). Perbaikan kondisi kebisingan di penggilingan padi UD. Maju di Kabupaten Bireuen menggunakan metode National Institute for Occupational Safety and Health, 688–695.

Makaruse, N., Maslin, M. R. D., & Shai, Z. (2025). Occupational noise-induced hearing loss in high-income countries: A multi-country analysis of compensation records. Heliyon, 11(10), e43164.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.

Purukan, Y., R. Mangangka, I., & J. Supit, C. (2025). Pengaruh kebisingan terhadap status pendengaran pekerja. 23(91).

Putri, M. Y., Hartanti, R. I., & Syamila, A. I. (2024). Pengaruh intensitas kebisingan terhadap gangguan pendengaran pada pekerja penggilingan padi. 9(1), 97–107.

Rachmawati, S., Suryadi, I., Fitriani, N., Firmansyah, F., & Nisya, K. (2025). Noise exposure and hearing threshold levels of rice mill workers. 14(1).

Safitri, D., dkk. (2021). Pengaruh kebisingan terhadap stres pada pekerja penggilingan padi. Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan, 15(2).

Setiawan, M. R. (2022). Hubungan intensitas kebisingan dan penggunaan alat pelindung diri dengan gangguan pendengaran pada pekerja pabrik.

Downloads

Published

2026-09-30

How to Cite

Hikma, N., Sattu, M., & Tongko, M. (2026). Gambaran Tingkat Kebisingan Dan Gangguan Pendengaran Pada Pekerja Penggilingan Padi Di Batui Selatan: Overview of Noise Levels and Hearing Impairment Among Rice Mill Workers in South Batui. Buletin Kesehatan Mahasiswa, 5(1), 65–71. https://doi.org/10.51888/bkm.v5i1.565